Background

Background

Silahkan klik beberapa gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***

Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.

--------------------------------------------
Cerpen Karya Asma Nadia
Tuk Upui Dan Tuk Bubut

Kayong itu kawan, ke kiri dan ke kanan, kau akan temukan orang melayu, jawa, madura, bugis, batak, tionghua, dan tentu saja daya`.  Terkhusus yang terakhir ini kawan, izinkan lah aku memakai kata ini tanpa huruf K dibelakangnya, karena demikianlah sesungguhnya cara kita —kami   orang Kayong—menyebutnya, persis seperti kita menyebut orang sunda`bukan sundaK.
Pernahkah kau bertanya dari belikat mana dirimu berasal? Jika kau orang Kayong, bisa saja kau adalah keturunan Para pelaut Ulung dataran Celebes —Sulawesi —sana , terutama jika kau masih berdarah turun dari Pesisir Utara seperti  Bapak-ku, Bugis.

Atau kau keturunan Ulama cendikia asal kandangan Banjar? Ataukah kau memang Asli orang sini, yang datuk moyangmu, menaklukan Laut China Selatan dari Indochina, mendarat dahulu di Sumatra Utara, lalu bermigrasi ke daratan Gunung Palong hingga Kendawangan ini ?
Atau kau pendatang Arab, Tionghua, Madura, Sunda, Jawa, Batak, dan lain sebagainya. Jangan khawatir kawan, di sini, di Kabupaten  kita nan Indah ini, nan berpantai nan bergunung nan berhutan nan berdanau ini, kau tetaplah dianggap orang kite, asal kau tak bermacam dan beranggap diri tinggi.
Berikutnya ini, kau akan dengarkan Hikayat yang kubaca dari Buku karangan Wa’ Anda’ Mewa –Abang Mamakku, tentang para penduduk asli Kayong.

Bila kau pernah membaca antropologi kawan, Nenek moyang Orang Nusantara ini datang dari Dataran Asia, tepatnya Indochina dan Yunan dalam dua tahap. Pertama disebut Proto Melayu atau Melayu Tua, berikutnya disebut Duetero Melayu atau Melayu Kedua. Nah, Dalam hikayat ini kawan, bolehlah kita identifikasi kedua tahapan itu.

Seribu dua ribu tahun lalu.

Bayangkanlah kawan, Pulau Delta Kayong saat itu belum terbentuk, yang ada hanya teluk besar lautan tempat buih bersarang, bayangkanlah Pasir – pasir Negeri Baru adalah pasir pantai berlaut asin dan ber-ikan gembung bukan Sungai dan ber-ikan baung. Nah, sudah kau bayangkan? Lalu dari peta bayangan mu itu, kau hapus bagian Sungai Awan Kanan dan Kiri hingga tersisa Desa Muara Kayong. Ya, begitulah dahulu sebelum Alam berkreasi sendiri membentuk daratan Sungai Awan dan Pulau ditengah sungai Kayong yang kini menjadi ibu kota Kabupaten.

Dahulu, di tanah berpasir pantai yang lautnya asin itu para pendatang pertama ke Kayong di pimpin oleh Tuk Upui menjejakkan kaki. Mengayuh jauh sampan Jalurnya melepaskan diri dari kuasa Pohon kedondong Raksasa di muara.

Menetaplah  dia di Natai Kemuning, sebuah tanah mungguk agak kedalam sikit dari muara kayong. Berlindung dari angin laut. Bertanam Padi  dan berkembang biaklah mereka, hingga membuat peradaban sederhana, berpusat pada tuk Upui dan keturunannya. Inilah proto melayu, budaya nya sudah ada namun belum mapan, dan masih nomaden walau tetap berpusat di Natai Kemuning.
Kemudian, datang lagi kelompok yang kedua berpuluh atau bahkan beratus tahun kemudian, mendatangi Pulau Sukadana yang masih terpisah dari Daratan Gunung Palong. Namun, mereka belum lagi puas, dari para suku pengembara laut mereka mendengar ada sebuah Pulau bergunung dan berlembah, tanahnya subur, binatang nya berlimpah, sungainya besar mengaliri seluruh lembah, sudah banyak orang bermukim disana, dan bertanam Padi hanya perlu sedikit usaha.

Maka Tuk Bubut, kepala rombongan itu bersama adik – adik perempuannya, Takon dan Doyan meneruskan perjalanan, disusurinya lagi pesisir Pulau mencari jalan menuju Jawa Dwipa, si Pulau Padi.
Kendawangan belum terbentuk dan masih berlaut – laut, namun kira – kira di sekitar itulah Tuk Bubut dan pengikutnya yang bergelang benang hitam merencanakan sebuah tindakan besar, mereka menyusun batu, hendak membuat penyeberangan ke Jawa.

Dan mereka gagal.

Akhirnya, mereka memutuskan kembali ke Sukadana, Tuk Bubut telah mendengar ada pemukiman di Natai Kemuning anakturun dari Tuk Upui. Kesanalah dia menuju, membawa keturunannya.
Takon kemudian dipanggil Nek Takon memilih masuk kedalam goa sebagaimana ditempat asalnya dipegunungan Indochina, dipilihnya Goa di anak gunung Palong sebagai tempat bermukim, hingga kini tak ada lagi yang bisa menemukan pemukiman pertama di Sukadana itu.

Adik yang satu lagi, Doyan dan keluarganya memutuskan mencari lahan untuk bertanam padi, dicarinya naik dan turun pegunungan Palong hingga bertemu sebuah laman berdekat Sungai kecil, itulah Lamannya, Laman Nek Doyan, kalau kau pergi Ke Sandai lewat jalan darat, kau akan melewati kampung itu.

Sementara Tuk Bubut telah pula mendapati anak turun Tuk Upui di Natai Kemuning, maka secara alami Tuk Bubut menggantikan Anak turun  Tuk Upui.


Dari sinilah, dari Daratan Tinggi dihulu Sungai Kayong inilah cerita berpisahnya dua peranakan besar bermula, orang suku laut yang kini mengidentifikasi kan diri menjadi Melayu dan orang suku darat yang mengidentifikasikan diri menjadi suku Daya`. Ceritanya berkelindan antara Kisah Alam dan Dongeng purba. Aku kan menceritakannya.

-----------------------------------
Cerpen: Karya Agus Kurniawan

Suatu hari yang terik saat matahari memanggang bumi dengan cahaya panasnya, seisi kampung dikejutkan dengan suara lengking tangisan dan jeritan memilukan  yang bersumber dari kediaman Haji Jujum,  nama panggilan akrab haji Jumarlis Ade Wijaya, di perkampungan Ujan Mas. Semua orang kampung paham bila suara lengking tangisan dan jeritan seperti itu bertanda bahwa ada seseorang yang meninggal. Tetapi siapakah yang dijemput oleh sang malaikat Izroil itu?

Semua orang bagai tersengat puntung rokok saat mendengar kabar bahwa yang meninggal itu Eko Satria Ramadhan atau yang sering dipanggil Cokro. Penduduk kampung Hujan Mas sering memanggilnya Cokro, bagi masyarakat Hujan Mas Cokro memang panggilan layak untuk anak Haji Jujum mengingat Haji Jujum adalah sesepuh desa Hujan Mas. Orang yang sedang panen duku berkata “Baru saja terlihat Cokro melintas di jalan ini” dan orang-orang yang sedang duduk-duduk di pondok di kebun duku , yang hanya sekedar mencari angin saat suasana terik panas lebih heran lagi, “satu jam yang lalu dia makan duku bersama kami “ dan mereka ingat Cokro pamitan untuk pulang ke rumahnya Karena perutnya terasa mules. “Innalillahi “kata orang-orang Hujam Mas. Memang Allah maha kuasa kapan saja ia menghendaki umatnya untuk kembali. “Sejam yang lalu Cokro masih bersama kita, tapi saat ini tubuhnya telah terbujur kaku”.

Sore harinya Cokro dimakamkan. Tetapi baru saja para pelayat sampai di pondok mereka masing-masing,  tersiar kabar dari Surau bahwa Diko, hansip kampung telah meninggal. Kabar ini diperkuat dengan tangisan pilu istri dan kedelapan anaknya. Dua warga kampung meninggal berturut-turut dalam waktu satu hari, di Hujan Mas bukan tidak pernah terjadi, walaupun sangat jarang sekali.  Tetapi pertanyaan besar timbul di pikiran masing-masing warga, ketika mendengar bahwa Diko meninggal karena mules perutnya. Cuma dua jam ia merasakan perutnya mules, kata istrinya Diko mulai mengeluh mules perutnya sepulang ia mandi dari sungai.


Matahari condong ke barat, suara adzan mulai berkumandang. Waktu menguburkan jenazah Diko masih tersisa sedikit. Memang kepercayaan masyarakat Ujan Mas bahwa nenunda penguburan itu hukumnya tabu, lagi pula sanak keluarga Diko telah berkumpul semua. Oleh karena itu, upacara pemakaman hansip kampung itu dilaksanakan hari itu juga.  Saat jenazah Diko diusung ke pemakan terdengar lagi jeritan histeris istrinya “ Mas tega benar engkau meninggalkanku dengan tanggungan delapan anak yang masih ingusan ini, apa jadinya kehidupak kami kelak”.


Keesokan harinya saat warga Ujan Mas hendak pergi ke kebun duku, mereka terkejut mendengar kabar bahwa istri haji Asep, dan Ardi anak guru Reddo meninggal pula. Keduanya semalaman menderita mules yang luar biasanya. Tetangga menambahkan pula bahwa mereka tidak bisa tidur karena mendengar rintihan kedua almarhum. Maka pertanyaan yang lalu muncul lagi. Mengapa mereka mati secepat itu?


Bermacam dugaan timbul di kalangan masyaraka Ujan Mas. Malah muncul dugaan bahwa sumber semua kematian itu berasal dari Gethuk yang dijual oleh mbok Lina. Desas-desus itu menyebar ke penjuru kampung, mereka percaya bahwa mbok Lina menambahkan racun ke dalam gethuk yang ia jual tiap pagi. Tetapi belum sempat warga Ujan Mas mengadili Mbok Lina, datanglah kabar yang dapat memulihkan nama baik nenek  penjual gethuk itu. Di kampung Ulu Sungai,  kampung Ilir Sungai, dan kampung  Sebiduk  ada juga orang yang mati gara-gara sakit perut.


Perihal serangan perut itu menjadi buah bibir di mana-mana, di pasar, di ladang, di rumah, di sekolah , di kantor camat, dan dimana orang bertemu. Semakin lama semakin banyak orang yang menjadi korban, masyarakat menjadi cemas, kantor ditutup, pasar ditutup, sekolah diliburkan. Semua orang sibuk untuk melayat ke orang mati yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya.


Enam keranda diusung bersama ke pemakaman, jarang terjadi pemandangan yang demikian. Baru saja para pelayat keluar dari pemakaman datang lagi dua keranda jenazah dari kampung Ilir Sungai, bahkan di areal pemakaman masih terlihat orang sedang menggali lima lubang kubur lagi.  Melihat pemandangan di pemakaman muncul lagi dugaan yang simpang siur kebenarannya.


Di kampung Ujan Mas, Haji Jujumlah yang berani mengatakan bahwa “Bala' inilah yang diturunkan Tuhan dari langit, sebagai peringatan  kepada manusia. Allah perlu memberikan teguran pada manusia, karena orang telah banyak lupa kepadanya coba, di mana-mana banyak orang tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan, anak lahir tanpa ayah. Orang minum arak, judi, dan bermain peremuan. Ditambah lagi dengan warga yang panen duku namun lupa untuk bersedekah.



Warga membenarkan perkataan haji Jujum Karena memang kenyataanya demikian. Banyak terlihat gadis-gadis telah berisi tanpa suami bukan satu atau dua orang saja. Orang yang mau datang ke masjid hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan saja. Mereka tidak mengenal lagi yang namanya mengaji, bacaan Alquran saja mungkin sudah banyak yang lupa. Para ibu-ibu tiap sore banyak yang datang ke masjid tapi bukan pengajian, mereka membuka forum di tangga masjid untuk bergosip ria. Tak ketinggalan, kaum lelaki pun malam hari jarang pulang kerumah, mereka menghabiskan malamnya dengan berminum-minuman tuak, berjudi, dan berkunjung ke rumah bordir. Tidak jarang pula terlihat anak sekolah SMP ataupun SMA yang berdua-duaann di pondok kebun duku entah apa yang mereka perbuat di sana.


Haji Jujum lah sesepuh desa yang disegani. Ia orang alim, setiap perkataannya selalu mengandung nasehat dan petuah. Walaupun konon katanya masa mudanya ia pergunakan untuk merampok, judi, dan bermabuk-mabukkan. Betapapun masa lalunya , sampai saat ini perkataanya masih didengar banyak orang. Perkataaan dan nasehatnya selalu diiringi denga firman Allah dan Hadits, karena itu orang tetap hormat kepadanya . ia dijadikan sesepuh di desa Ujan Mas.


Selain haji Jujum, warga kampung juga berpendapat bahwa kampung mereka sedang dijatuhi balak oleh Tuhan. Imam-imam masjid sibuk berceramah bahwa memang bencana ini adalah balak yang turun dari Tuhan mengingat banyak umat manusia yang lebih mementingkan kepentingan dunia daripada kepentingan akherat.


Sejak itu, saf-saf masjid mulai penuh, pengajian mulai dijalankan lagi, malam hari banyak terdengar lantunan ayat Alquran yang dibaca tiap-tiap orang di desa Ujan Mas. Para petani yang panen duku menyumbangkan sebagian hasil panennya kepada orang miskin.


Semakin hari kematian semakin menjadi-jadi, balak yang melanda kampung Ujan Mas melebihi serangan serangga Tomcat yang marak diperbincangkan, keranda  jenazah tidak pernah lagi kembali ke tempatnya. Keceriaan telah membeku, langit mendung menyelimuti kampung itu. Dan saf dilanggar dan masjid semakin bertambah terus.


Ada seorang dokter dari kebangsaan perancis yang senang tinggal di Ujan Mas. Ia berpendapat lain, ia cepat menghubungi pejabat daerah untuk mengadakan penelitian terkait dengan kematian warga. Setelah diadaka penelitian  wabar ELTOR lah yang telah merenggut nyawa warga Ujan Mas. Ia meminta seluruh warga untuk mendatangi puskesmas supaya mendapat suntikan sebagai penawar wabah eltor yang telah menyebar. Namun warga Ujan Mas tetap saja tidak percaya , mereka menganggap wabah eltor hanya akal-akalan dokter saja. Sebelumnya mereka belum pernah mengenal wabah ini yang mereka kenal hanyalah disentri, kolera, dan cacar.


Sebelumnya semua warga menyukai dokter yang berperawakan jangkung itu. Ia baik ke semua warga apalagi ia tidak pernah memilih-milih cara bergaul. Tak jarang ia hadir berkumpul bersama warga baik yang miskin maupu  yang kaya. Tak segan ia duduk bersil di tikar pandan bersama warga kamung lainnya.

Namun, setelah balak itu muncul warga jengkel kepadanya, termasuk haji Jujum. Larangan-larangan dokter dipandang tidak masuk akal. Dokter melarang warga mandi di sungai, buang air di sungai, nyuci di sungai.  Padahal rutinitas itu telah dilakukan warga secara turun temurun. Dokter melarang warga makan tempoyak dan bekasam yang justru menjadi makanan kesukaan warga. Selain itu, dokter melarang pula warga makan pempek, tekwan, lenggang, burgo, lakso, pindang dan model. Yang paling tidak mereka senangi ialah dokter melarang untuk memandikan jenazah di sungai, dan melarang agar orang yang melayat untuk makan makanan dari runah orang yang berduka. Haji Jujum semakin geram dan semangat memberikan petuah “cak itulah akal bulus wong kafir,kito jangan percayo”.



Semakin lama pemakaman semakin ramai, dan di Ujan Mas, di rumah lutfi si sopir angkot, di rumah Ihsan si tukang sayur, di rumah mak resti si penjual perabotan, dan di rumah nyonya Ayu si juragan yang kaya raya air mata belum juga kering. Suasana mencekam semakin menjadi-jadi, tiap orang sering terlihat merenung seolah-olah menunggu kapan keluarga mereka mendapat giliran untuk diusung ke pemakaman apakah dirinya, anaknya, istrinya, atau mereka akan diusung bersama-sama sekeluarga.


Sang  dokter pantang menyerah meskipun ia dibenci warga, dengan segenap ilmunya ia terus mencoba mengajak warga untuk mau disuntik, ia bekerja sama dengan kepolisian untuk memperingatkan setiap warga agar tidak pergi ke sungai, menutup warung makanan, melarang anak-anak untuk bermain air hujan.


Bala' belum juga surut, orang mati semakin bergelimpangan. Banyak orang semakin dekat dengan tuhan, melakukan sembahyang berjamaah, sholat tahajjud. Ada beberapa orang telah memberanikan diri datang ke Puskesmas untuk disuntik.


Suatu malam terdengar pengumuman diteriakkan seseorang dengan nyaring. Siapakah dia? “wooiiii …sanak sedolor  sedunio anget siapo yang pengen  mati jangan galak di suntik. Tapi siapo bae yang nak idop betandanglah  ke Puskesmas mintak suntik besok pagi jugo”. Orang kampung Ujan Mas menyimak kata-kata itu, setelah beberapa lama mereka menyimak suara Haji Jujumlah yang teriak-teriak di sepanjang lorong rumah warga.


Mereka tercengang melihat perubahan pada diri haji Jujum padahal selama ii haji Jujum tidak pernah menyinggung perihal suntikkan ataupun rumah sakit.  Bahkan mereka paham bahwa haji jujum sangat benci dengan dokter yang telah memberikan larangan yang dirasanya sangat tidak masuk akal melarang memandikan mayat, mandi di sungai, dan mengadakan selamatan. Betapapun itu keesok harinya warga berduyung-duyung datang ke puskesmas minta disuntik. Mereka membawa anak, istri, bahkan orang jompo pun dipaksa untuk mau disuntik.


Sehari setelah itu, mereka mengetahui sebab haji Jujum berubah drastis tiga ratus enam puluh derajat. Sehari sebelumya istri haji Jake, Nyai Melisa diserang sakit perut seperti yang telah dialami almarhum anaknya si Cokro. Karena takut kehilangan istrinya tercinta Haji Jujum cepat-cepat membawa istrinya ke rumah sakit. Ternyata setelah ditolong dokter, jiwa Nyai Melisa dapat terselamatkan seperti beberapa warga yang telah dibawa ke rumah sakit. Itulah peristiwa pertama kali selama ia hidup untuk menginjakkan kaki ke rumah sakit.


Akhirnya orang mati semakin berkurang, lama kelamaan suasana kampung Ujan Mas kembali seperti sedia kala. Orang dapat tertawa bebas di warung-warung makanan. Bioskop mulai di buka, rumah bordir mulai melayani pelanggan, saf di masjid sedikit demi sedikit berkurang. Suara orang mengaji hilang seiring hilangnya wabah eltor. 


Cerpen: karya Yani Andromeda
---------------------------
NB.
Buat teman2 yang hobi nulis, saya undang tuk jadi penulis di blog saya. Silakan bikin tulisan non fiksi maupun fiksi yang bermanfaat dan sesuai dgn nilai2 Islam. Nah, yang dapat komentar paling banyak dari pembaca, saya kasi hadiah spesial. :)
Ingat, tulisan harus asli ya, bukan hasil copas!!!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...