Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Gebrakan Menteri Kesehatan (Menkes) baru, Dr Nafsiah Mboi usai dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terus melahirkan sorotan masyarakat. Ustad Yusuf Mansur, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran Bulak Santri, Cipondoh, Tangerang yang dikenal publik dengan “Pengajian Wisata Hati” dalam pernyataan terbarunya di laman jejaring sosialnya sangat kaget dengan gagasan bagi-bagi kondom gratis (kondomisasi) kepada kelompok seks berisiko, termasuk remaja.
“Kampanye calon bupati atau gubernur itu biasa. Kampanye calon Presiden juga biasa. Tapi kampanye yang satu ini bikin heboh negeri ini,” ujar Yusuf Mansur dalam pernyataannya berjudul “Kampanye Menkes Baru” yang ditulis dalam blog resmi http://yusufmansur.com/kampanyemenkesbaru.
Dalam pernyataannya, Yusuf Mansur mengajak masyarakat ikut mendoakan dan memberi solusi pada pemerintah yang dinilai sudah puyeng (berat, red) menghadapi berbagai masalah, termasuk HIV dan aborsi.
“Baca artikel ini dg kalem, ga pake urat. Tp sekuat tenaga mulai berpikir juga bantu negara di urusan pencegahan freesex, hiv, aborsi, trmasuk narkoba. Betapapun, pencegahan lbh hebat dan utama, daripada memfasilitasi kondom.”
Ia juga berjanji akan segera menghadap presiden dengan beberapa para ulama terkait masalah ini.
“Doain, segera saya akan menghadap Presiden dan menteri terkait…
“InsyaAllah… Saya akan ajak bbrp ulama… Aaamiiin… Mhn doanya… Jika susah, ngadep Allah aja. Sekali lagi, jadilah ummat solutif. Ummat yg memberikan solusi. Kelihatannya, kalau bukan unsur kesengajaan merusak, ini sbb pemerintah, udah kepuyengan dg kasus hiv, aborsi, freesex, juga narkoba… Yuk, kita bantu. Minimal dg doa dulu, baik sangka, dan bergerak…,” tambah Yusuf Mansur.
Protes Umat Islam
Sebelum ini, Raja Dangdut Rhoma Irama yang juga Ketua Forum Silahturahim Ta'Mir Masjid dan Mushola Indonesia (Fahmi Tamami), menilai kebijakan Menkes sama saja mendorong munculnya seks bebas di kalangan remaja
''Kami menyesalkan sikap dari menkes yang punya program kepada para remaja 14-24 tahun untuk menggunakan kondom. Ini sama saja dengan mendorong seks bebas yang notabene melanggar norma agama dan kesusilaan,'' kata Rhoma di Jakarta, Selasa (19/06/2012) dikutip Republina online.
Rhoma mengatakan, jika hal semacam ini terus disosialisasikan maka ancaman yang muncul akan jauh lebih besar dari pada ancaman HIV/Aids itu sendiri. Raja Dangdut ini juga mendesak agar menkes menarik kebijakannya serta menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat beragama.
''Kalau Nafsiah Mboi tidak menarik rencananya tentu akan ada reaksi keras dari ormas Islam,'' ancam Rhoma.
Sementara dalam akun twitter nya @Yusuf_Mansur, dai yang kerap tampil di TV ini mengajak masyarakat membahas masalah ini dengan kepala dingin dan mencari latar belakang mengapa Menkes mengeluarkan gagasan tersebut.
“Kalo emang bnr gebrakan menkes ttg kondom, kira2 gimana ya enaknya? Cari tau dulu, bnr apa engga. Trus latar belakang menkes itu siapa&gmn?.”“Kampanye calon bupati atau gubernur itu biasa. Kampanye calon Presiden juga biasa. Tapi kampanye yang satu ini bikin heboh negeri ini,” ujar Yusuf Mansur dalam pernyataannya berjudul “Kampanye Menkes Baru” yang ditulis dalam blog resmi http://yusufmansur.com/kampanyemenkesbaru.
Dalam pernyataannya, Yusuf Mansur mengajak masyarakat ikut mendoakan dan memberi solusi pada pemerintah yang dinilai sudah puyeng (berat, red) menghadapi berbagai masalah, termasuk HIV dan aborsi.
“Baca artikel ini dg kalem, ga pake urat. Tp sekuat tenaga mulai berpikir juga bantu negara di urusan pencegahan freesex, hiv, aborsi, trmasuk narkoba. Betapapun, pencegahan lbh hebat dan utama, daripada memfasilitasi kondom.”
Ia juga berjanji akan segera menghadap presiden dengan beberapa para ulama terkait masalah ini.
“Doain, segera saya akan menghadap Presiden dan menteri terkait…
“InsyaAllah… Saya akan ajak bbrp ulama… Aaamiiin… Mhn doanya… Jika susah, ngadep Allah aja. Sekali lagi, jadilah ummat solutif. Ummat yg memberikan solusi. Kelihatannya, kalau bukan unsur kesengajaan merusak, ini sbb pemerintah, udah kepuyengan dg kasus hiv, aborsi, freesex, juga narkoba… Yuk, kita bantu. Minimal dg doa dulu, baik sangka, dan bergerak…,” tambah Yusuf Mansur.
Protes Umat Islam
Sebelum ini, Raja Dangdut Rhoma Irama yang juga Ketua Forum Silahturahim Ta'Mir Masjid dan Mushola Indonesia (Fahmi Tamami), menilai kebijakan Menkes sama saja mendorong munculnya seks bebas di kalangan remaja
''Kami menyesalkan sikap dari menkes yang punya program kepada para remaja 14-24 tahun untuk menggunakan kondom. Ini sama saja dengan mendorong seks bebas yang notabene melanggar norma agama dan kesusilaan,'' kata Rhoma di Jakarta, Selasa (19/06/2012) dikutip Republina online.
Rhoma mengatakan, jika hal semacam ini terus disosialisasikan maka ancaman yang muncul akan jauh lebih besar dari pada ancaman HIV/Aids itu sendiri. Raja Dangdut ini juga mendesak agar menkes menarik kebijakannya serta menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat beragama.
''Kalau Nafsiah Mboi tidak menarik rencananya tentu akan ada reaksi keras dari ormas Islam,'' ancam Rhoma.
Sementara dalam akun twitter nya @Yusuf_Mansur, dai yang kerap tampil di TV ini mengajak masyarakat membahas masalah ini dengan kepala dingin dan mencari latar belakang mengapa Menkes mengeluarkan gagasan tersebut.
Seperti diketahui, sebelum diangkat menjadi Menteri Kesehatan (Menkes) menggantikan posisi almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih yang wafat, Nafsiah Mboi dikenal sebagai dokter spesialis anak. Sebelum ini, ia menjabat sebagai Ketua Komite Hak-hak Anak untuk PBB. Wanita kelahiran di Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940 itu, juga pernah menjadi Direktur Departemen Kesehatan Perempuan dan Gender di Badan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), dan Wakil Ketua Komisi Nasional Perempuan.
Istri Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 1978-1988 Ben Mboi itu juga pernah ditunjuk menjadi Sekretaris Nasional Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang dikenal aktif mendalami penanggulangan HIV/AIDS.
Sumber: www.hidayatullah.com
Ritual sunat ala Yahudi, di mana tukang sunat menghisap darah dari kemaluan anak yang baru lahir, telah menyebabkan setidaknya 11 kasus herpes dan 2 anak meninggal dunia dalam 10 tahun terakhir, kata otoritas kesehatan Amerika Serikat, Kamis (7/6/2012), sebagaimana dilansir AFP.
Kasus infeksi herpes simplex virus (HSV-1) itu semuanya terdokumentasi di kota New York dari tahun 2000 sampai 2011, dan beberapa di antaranya terjadi di lingkungan tempat tinggal yang sama, tulis laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
“Hisapan lewat mulut pada luka terbuka beresiko menularkan HSV-1 dan bibit-bibit penyakit lain kepada bayi dan itu tidak aman,” tulis laporan mingguan CDC tentang morbiditas dan mortalitas. “Sunat adalah prosedur bedah berupa pemotongan kulit utuh, tehnik steril harus digunakan untuk meminimalisasi resiko infeksi,” imbuh laporan itu.
HSV-1 merupakan infeksi yang umum terjadi, sebagian pakar mengatakan menjangkiti 90 persen populasi. Biasanya menimbulkan semacam luka lecet pada bagian mulut atau bisa juga menimbulkan herpes pada alat kelamin. Obat penyakit ini belum ada. Pada bayi, infeksi HSV-1 dapat menyebabkan kematian atau cacat permanen. Jenis virus yang lebih ganas, HSV-2, sering berkaitan dengan luka pada alat kelamin pria dan wanita, yang menurut organisasi kesehatan dunia WHO diderita oleh 16 persen populasi dunia.
Salah satu anak yang tewas merupakan anak kembar. Ia disunat oleh seorang mohel (tukang sunat) di luar rumah sakit dalam sebuah acara ritual yang dilakukan oleh mohel bersangkutan. Tukang sunat itu menmotong kulit kelamin si bayi, lalu menyedot darahnya dengan mulutnya sendiri.
Menurut laporan CDC, sepasang anak kembar disunat oleh mohel A saat usia 8 hari. Kemudian pada hari ke-16 kondisi kesehatannya diperiksa. Kedua bayi itu diketahui terinfeksi HSV-1. Bayi yang disunat lebih dulu meninggal karena infeksi itu. Orangtua bayi, terutama si ibu, tidak memiliki riwayat penyakit herpes, yang biasanya menulari bayi saat proses kelahiran
.
Empat belas petugas medis di rumah sakit yang merawat keduanya saat baru lahir juga tidak memiliki riwayat herpes. Namun tukang sunat yang diperiksa setelah 97 hari melakukan sunat, terbukti mengidap infeksi HSV-1.
Seorang bayi baru lahir juga meninggal pada tahun 2011 dalam kasus serupa. Namun, karena tukang sunatnya tidak bisa diidentifikasi untuk diperiksa, maka pihak CDC menduga telah terjadi penularan HSV-1 dengan cara yang sama. CDC mengatakan, sebagian otoritas rabi Yahudi bersikukuh penghisapan darah langsung dari kemaluan bayi yang disunat oleh tukang sunat merupakan bagian dari ritual yang tidak dapat dipisahkan. Sedangkan rabi dari ultra-
Orthodoks memperbolehkan penghisapan darah dilakukan dengan menggunakan alat bantu lain.
CDC menambahkan, kasus infeksi serupa juga banyak terjadi di Kanada dan Israel. Namun, hal itu sulit dicegah, karena upacara ritual sunat di kalangan Yahudi biasanya dilakukan di tempat yang tidak memenuhi standar kesehatan.
-------------------------------------------------------------------
Sumber: www.hidayatullah.com
Banyak orang merasa tak nyaman dengan gigi mereka sehabis mengkonsumsi makanan atau minuman. Oleh karenannya tak jarang dari mereka langsung menggosok gigi mereka sehabis makan. Namun penelitian terbaru menyatakan, menggosok gigi kurang dari satu jam setelah makan nyatanya dapat merusak gigi.
Dokter gigi memperingatkan, menyikat gigi dalam waktu setengah jam setelah makan atau minum bisa membuat gigi mengalami kerusakan parah. Sebab setelah makan atau minum khususnya minuman bersoda, asam akan membakar ke dalam enamel gigi. Serta lapisan lain di bawah enamel yang disebut dentin.
Menyikat gigi pada waktu yang 'salah', terutama dalam waktu 20 menit setelah makan, dapat mendorong asal lebih masuk ke dalam gigi. Nantinya hal ini dapat menyebabkan korosi jauh lebih cepat dan akan membusuk dengan sendirinya.
" Menyikat gigi sesaat setelah makan, Anda benar-benar akan mendorong asam lebih dalam ke enamel dan dentin," kata Dr. Howard R. Gamble.
Sehingga para dokter gigi menyarankan, jika ingin menyikat gigi setelah makan sebaiknya Anda lebih bersabar. Setidaknya satu jam setelah makan merupakan waktu yang aman untuk menyikat gigi setelah mengkonsumsi makanan maupun minuman.
---------------------------------------
Sumber: www.republika.co.id
Dokter gigi memperingatkan, menyikat gigi dalam waktu setengah jam setelah makan atau minum bisa membuat gigi mengalami kerusakan parah. Sebab setelah makan atau minum khususnya minuman bersoda, asam akan membakar ke dalam enamel gigi. Serta lapisan lain di bawah enamel yang disebut dentin.
Menyikat gigi pada waktu yang 'salah', terutama dalam waktu 20 menit setelah makan, dapat mendorong asal lebih masuk ke dalam gigi. Nantinya hal ini dapat menyebabkan korosi jauh lebih cepat dan akan membusuk dengan sendirinya.
" Menyikat gigi sesaat setelah makan, Anda benar-benar akan mendorong asam lebih dalam ke enamel dan dentin," kata Dr. Howard R. Gamble.
Sehingga para dokter gigi menyarankan, jika ingin menyikat gigi setelah makan sebaiknya Anda lebih bersabar. Setidaknya satu jam setelah makan merupakan waktu yang aman untuk menyikat gigi setelah mengkonsumsi makanan maupun minuman.
---------------------------------------
Sumber: www.republika.co.id
















